Review Drama Hi Bye Mama: Drama Paling Menguras Air Mata


Sinopsis:

Sesuai judulnya drama ini berisikan ‘Hi’ yang berarti pertemuan, kelahiran. ‘Bye’ perpisahan,kematian dan juga ‘Mama’ atau ibu, wanita.
Drama ini mengisahkan tentang Cha Yoo-Ri (Kim Tae Hee) yang mengalami sebuah kecelakaan ketika sedang mengandung. Hal itu membuat dokter harus menyelamatkan salah satu antara ibu atau anaknya. Saat itu Cha  Yoo-Ri bersikeras agar dokter menyelamatkan anaknya. 
Jo Kang Hwa (Lee Kyu hyung) suami Cha Yoo-Ri yang berprofesi sebagai dokter ahli bedah toraks di rumah sakit yang sama sedang melakukan operasi dan tidak bisa dihubungi karena suatu hal. Ketika ia keluar dari ruang operasi, ia mendapati istrinya telah meninggal. Semenjak kejadian tersebut Jo Kang Hwa menjadi depresi dan tidak bisa melakukan operasi karena merasa bersalah.
5 tahun berlalu Jo Kang Hwa hidup dengan perasaan bersalah dan penyesalan. Jo Kang Hwa terus bertahan demi anak mereka dan menikah lagi dengan adik kelasnya saat di universitas. Sementara Yoo-Ri masih menjadi arwah dan tak bisa bereinkarnasi  karena orang-orang terdekatnya belum bisa melepasnya. Yoo-Ri juga selalu mengikuti anaknya selama 5 tahun dan berusaha melindungi anaknya dengan mengusir arwah lain yang berusaha mendekati anaknya.
Suatu hari tiba-tiba Yoo-Ri hidup kembali dan diberi waktu 49 hari untuk menemukan kembali posisinya agar dapat hidup seterusnya. Orang-orang terdekatnya pada awalnya tak percaya, namun akhirnya mulai menerima Yoo-Ri. Yoo-Ri sangat senang dapat menemui anaknya, namun di sisi lain ia tak mungkin mendapatkan posisi seorang ibu dan seorang istri karena telah ada orang lain yang mengisinya.

Review:

Drama ini sedikit berbeda dari kebanyakan drama Korea yang pada umumnya bercerita tentang cinta antara laki-laki dan perempuan. Masih tentang cinta, namun bedanya lebih khusus bagaimana cinta antara ibu dan anak. Sangat jelas beberapa kali Yoo-Ri mengatakan bahwa semenjak mengandung semua rencana masa depannya adalah tentang anaknya. Selain cinta Yoo-Ri dan anaknya, digambarkan pula bagaimana cinta ibu Yoo-Ri yang kehilangan anaknya. Ibu Yoo-Ri berusaha tampak tegar dihadapan keluarganya yang lain namun sering kali menangis seorang diri. Ibunya juga selalu berdoa untuk anaknya selama 5 tahun semenjak kepergian anaknya. Terdapat satu cuplikan kalimat yang sangat mengharukan “suami/ istri yang ditinggal mati pasangannya menjadi duda/ janda, anak yang ditinggal mati orang tuanya menjadi yatim piatu, namun tak ada sebutan untuk orang tua yang ditinggalkan anaknya karena tak bisa dibayangkan bagaimana sakitnya”.
Selain seputar tokoh-tokoh utama tadi ada juga tokoh-tokoh pendukung yang membuat kita tersadar betapa berharganya hidup dan kita bisa menyadarinya setelah meninggal. Keluarga juga menjadi hal paling berharga yang harus kita tinggalkan. Sementara harta yang kita tinggalkan belum tentu bermanfaat, bisa saja malah membuat keluarga terpecah belah. Sebagai manusia yang memiliki keinginan jika tak dikendalikan juga akan membuat kita serakah seakan tak pernah cukup.
Berbeda dengan drama lain juga, drama ini sebenarnya kental akan unsur feminis, kebanyakan tokoh dalam drama ini adalah perempuan dan mereka lebih dominan. Drama ini menyorot bagaimana kehidupan perempuan yang lebih kompleks, mereka memiliki berbagai macam peran dalam kehidupanya namun sering kali hanya dianggap tokoh pendukung. Di sini perempuanlah yang mengambil keputusan untuk diri mereka sendiri. Sedangkan sebagai seorang ibu, mereka rela melakukan apapun untuk anaknya bahkan memberikan hidupnya.

Spoiler:

Drama ini sangat menguras air mata terutama apabila berkaitan dengan ibu. Pada awalnya ibu Yoo-Ri tampak sangat tegas dan keras, namun kenyataannya dia melakukan semua itu untuk anaknya meskipun sebenarnya tindakannya bertentangan dengan hati nuraninya. Namun kegigihan seorang ibu yang terus berdoa selama 5 tahun tersebut bisa membuat Dewa menghidupkan kembali anaknya.
Yoo-Ri sebagai seorang ibu yang mengorbankan nyawa untuk anaknya juga memiliki cinta yang menakjubkan. Semenjak anaknya lahir ia hanya mampu melihat anaknya. Tak bisa memeluk anaknya, tak bisa menenangkan anaknya, tak bisa melindungi anaknya, tak bisa dibayangkan bagaimana perasaannya. Bahkan ketika ia hidup kembali, ia tak bisa mengatakan “aku ibumu”.
Selain dua ibu hebat itu ada juga ibu tiri dari anak Yoo-Ri. Istri baru Jo Kang Hwa tersebut sebenarnya telah menyukai Jo Kang Hwa semenjak di Universitas namun saat itu Jo Kang Hwa telah bersama Yoo-Ri. Dia menjadi perawat di rumah sakit yang sama dengan Jo Kang Hwa. Dialah yang membuat Jo Kang Hwa bangkit dari kesedihannya dan menjadi ibu yang sangat baik. Bahkan dia mengatakan mengapa bahwa semua ibu tiri dalam dongeng selalu jahat, mengapa demikian? Bukankan ibu tiri juga seorang ibu? Dia memang luar biasa bisa mencintai anak Jo Kang Hwa seperti anak kandungnya sendiri.

Easter Egg:

Dalam drama ini terdapat dua tokoh dalam drama lain “Oh My Gosh” tokoh hantu perawan dalam drama tersebut ternyata selalu mengikuti Jo Kang Hwa. Dukun yang ada di dalam drama tersebut juga merupakan dukun langganan salah satu teman Yoo-Ri. Hal ini dapat dipastikan saat Yoo-Ri menyerahkan hantu perawan itu pada dukun. Apakah “Oh My Gosh” dan “Hi Bye Mama” dalam universe yang sama? Mungkin, namun latar waktunya sedikit tak sesuai karena “Hi Bye Mama” jelas terjadi di tahun 2020. Sedangkan “Oh My Gosh” pada tahun 2015 hal paling masuk akal yang menghubungkan kedua drama ini adalah keduanya di sutradarai oleh orang yang sama yakni Yoo Je Won. Selain itu hal tersebut mungkin dimaksudkan adanya kesamaan  pemahaman tentang arwah antara kedua drama tersebut.

Comments