Review Film Perempuan Tanah Jahanam (impetigore)


Sinopsis:

Film yang disutradarai Joko Anwar ini menceritakan kisah Maya (Tara Basro) yang berprofesi sebagai penjaga gerbang tol. Setelah mengalami kejadian mengerikan saat bekerja, Maya dan sahabatnya Dini (Marissa Anita) keluar dari pekerjaannya. Mereka membuka kios baju di pasar, namun kondisi perekonomian mereka semakin memburuk. 
Setelah kejadian yang mereka alami di tempat kerja, Maya mulai ingin tahu tentang masa lalunya yang tidak dia ketahui. Satu-satunya yang dimiliki Maya adalah foto masa kecilnya bersama orang tuanya di sebuah rumah yang besar. Maya dan Dini menyadari  bahwa keluarga Maya yang di kampung kaya raya, hal itu mungkin dapat menyelesaikan masalah mereka. Selama ini Maya hanya tahu dia pindah ke kota ketika berusia lima tahun karena kedua orang tuanya meninggal.
Berbekal foto dan sedikit informasi, Maya dan Dini kemudian pergi ke kampung halaman Maya di Desa Harjosari untuk melihat kondisi rumah orang tuanya dan mencari tahu kemungkinan rumah itu dapat dijual. Perjalanan panjang mereka diwarnai dengan berbagai keganjilan. Mulai hal aneh yang Maya lihat saat di bus, hingga sulitnya menjangkau Desa Harjosari.
Saat tiba di Desa Harjosari mereka merasa kehadiran mereka tak diterima, tak ada penduduk yang ramah terhadap mereka. Selain itu kampung tersebut juga sangat ganjil, tiap hari ada seorang bayi yang meninggal. Ditambah lagi tak ada anak kecil sama sekali di desa tersebut.
Sisi baiknya, mereka menemukan rumah keluarga Maya yang masih dalam kondisi cukup bagus. Mereka bertemu kepala desa Ki Saptadi (Ario Bayu) dan ibunya Nyi Misni (Christine Hakim), mereka mengaku sebagai mahasiswa yang ingin menulis tentang wayang berhubung Ki Saptadi adalah seorang dalang.
Mereka memutuskan untuk menginap di rumah Maya. Hal aneh terus bermunculan, apalagi setelah Dini menghilang, Maya juga harus mengalami kejadian-kejadian yang akhirnya mengungkap kebenaran masa lalunya. Di saat bersamaan juga mengungkap kutukan jahat yang menimpa desa tersebut.

Review:

Selain artis-artis senior film ini juga diperankan oleh warga lokal daerah lokasi syuting, namun mereka dapat berbaur dengan akting yang bagus. Logat kota yang ditampilkan mewakili bagaimana masyarakat kota berkomunikasi dan juga jawa yang ditampilkan cukup kental. Untuk logat Jawa ki Saptadi menurutku masih kurang untuk seukuran dalang. Sedangkan logat Ratih (Asmara Abigail) sangat bagus dan nampak seperti warga desa setempat.
Setting tempatnya pun juga sangat bagus dan nampak realistis. Secara visual mata kita juga akan dimanjakan dengan cinematografi yang sangat bagus. Hal ini menambahkan unsur seram dalam film, meskipun tanpa jumpscare. Secara umum film ini bergenre horor-thriller, namun kemunculan hantu hanya sekilas saja. Manusia dalam film ini justru digambarkan lebih seram dan kejam di bandingkan setan.
Film ini juga menggambarkan realita kehidupan masyarakat menengah ke bawah. Maya dan Dini dapat menggambarkan kehidupan di kota yang keras. Mereka mau tidak mau akan digantikan oleh mesin dalam bekerja, mereka menguras tabungan dan membuka usaha namun tak semudah yang mereka bayangkan. Biaya hidup dan masih banyak yang harus mereka pikirkan membuat orang-orang di kota seperti mereka sibuk memikirkan nasib mereka sendiri.
Saat pergi ke desa terpencil yang sangat jauh dari kota, jalan yang mereka lewati sangat kecil, rusak dan melewati hutan. Hal ini juga sangat sesuai dengan realita di Indonesia yang memang masih ada desa yang seperti itu. Mereka sengaja menjauh dari kehidupan modern dan masih mempercayai hal-hal mistis. Kehidupan mereka yang penuh teror membuat mereka tak mempercayai ‘orang luar’.
Konflik utama dalam film ini berawal dari dendam dan ilmu hitam. Keduanya seolah berkaitan dan tak berkesudahan memberi teror menakutkan untuk warga desa. Kedatangan Maya dan Dini di desa ini memang dimaksudkan untuk menyelesaikan konflik yang ada.
Spoiler:
Scene awal film ini sudah sangat intens dan menegangkan, hal ini bisa membuat penonton tertarik dan penasaran kelanjutan film tersebut. Scene awal kemunculan tokoh Bimo ini juga merupakan kunci yang akhirnya membuat Maya dan Dini pergi ke desa. Hal tersebut pada akhirnya mempengaruhi keseluruhan cerita.Bagian tengah menuju akhir, penyelesaian konflik dalam film ini tidak bisa ditebak dan menegangkan. Banyak pula adegan berdarah yang cukup membuat penonton merasa risih ketika melihatnya.
Keluarga Ratih di sini juga berpengaruh dalam menyelesaikan konflik. Ratih mengatakan bahwa neneknya memiliki ‘penglihatan’ dan membantu menyelamatkan Maya ketika dikejar warga. Menjadi masuk akal jika keluarga Ratih sebenarnya mengetahui apa yang terjadi di desa mereka. Adegan ratih mengatakan “kerasa gak?” itu mungkin dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa dirinya sedang hamil. Kemudian suaminya sengaja pergi ke kota untuk mencari Maya agar Maya dapat mengakhiri kutukan di desanya agar bayinya dapat terlahir normal.
Kejanggalan lain dari keluarga Ratih adalah mereka membesarkan anak yang menerima kutukan di hutan. Mungkin saja warga desa tak ada yang mengetahui, mereka sengaja menyelamatkan anak tersebut karena mengetahui kebenaran dibalik kutukan di desa Harjosari. Ratih juga tahu kalau kutukan tak bisa benar-benar dari desa mereka dan hal ini terbukti di akhir film.

Comments