Sinopsis:
Film yang disutradarai Angga Dwimas Sasono merupakan film yang diadopsi dari buku Marchella Febritrisia Putri dengan judul yang sama. Sebenarnya adaptasi kali ini cukup unik karena dalam buku Marchella tidak ada alur cerita, hanya berupa quotes. Buku NKCTHI terdiri dari empat bab yakni Pagi, Siang, Sore dan Malam. Di setiap bab berisi nasihat dan ilustrasi visual “Tentang memori, gagal, tumbuh, patah, bangun, hilang, menungu, bertahan, berubah dan semua ketakutan manusia pada umumnya”.
Buku ini seolah merangkum semua yang ingin disampaikan seorang ibu pada anaknya berdasarkan pengalaman hidup yang telah dilaluinya. Diawal buku, Awan sang tokoh utama juga menceritakan tentang kelahirannya, orang tuanya beserta harapan yang disisipkan melalui namanya, ‘Awan’. Alasan mereka mereka memilih nama Awan karena ingin anaknya bak awan yang selalu punya cara untuk menghibur bumi.
Ide utama antara film dan bukunya adalah keduanya bercerita tentang surat yang dituliskan Awan (Rachel Amanda) kepada anaknya di masa depan (Isyana Sarasvati). Segala nasehat dalam buku divisualisasikan dalam sebuah cerita tentang Awan dan keluarganya melewati masalah dalam hidup mereka.
Film NKCTHI sendiri bercerita tentang sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan ketiga anaknya yakni Angkasa (Rio Dewanto), Aurora (Sheila Dara), dan Awan. Sebagai anak pertama dan satu-satunya anak laki-laki, Angkasa dituntun untuk menjaga dan melindungi adik-adiknya terutama si bungsu Awan. Aurora sebagai anak kedua selalu mandiri karena tak ingin menjadi beban kakaknya. Awan sebagai anak terakhir memiliki sifat yang manja namun juga merasa terkekang.
Awalnya kehidupan mereka berjalan seperti biasa. Ayahnya yang bersikap keras, seorang pegawai bank sehingga kehidupan mereka berkecukupan. Ibu mereka seorang ibu rumah tangga berhati lembut yang selalu memperhatikan anak-anaknya. Angkasa yang selalu diandalkan keluarga, bersama pacar dan teman-temanya memiliki sebuah Event Organizer. Aurora yang pendiam seorang seniman yang sedang mempersiapkan pameran tungal pertamanya. Terakhir Awan yang sedang magang di perusahaan Arsitektur selalu diantar jemput angkasa karena permintaan ayah mereka.
Kehidupan damai mereka berubah ketika Awan mengalami kecelakaan, dia tertabrak sepeda motor saat menyeberang jalan usai magang. Suatu hari karena bosan selalu di rumah, Awan menonton konser yang diselenggarakan EO kakaknya, di situlah dia bertemu dengan Kale (Ardhito Pramono). Mereka kemudian berteman baik, Kale menunjukkan hal-hal dan tempat baru yang tak pernah diketahui Awan.
Selama ini ayahnya selalu mengontrol kemana saja Awan pergi dan meminta angkasa mengantar jemputnya. Awan mulai berontak dan menyukai kebebasan yang diperkenalkan Kale. Di sisi lain kehidupan Angkasa juga berisi banyak hal lain selain Awan, Angkasa merasa tertekan akan sikap ayahnya. Sementara Aurora yang selalu diam akhirnya mengambil tindakan karena konflik dalam keluarga mereka. Pada akhirnya ada luka lama yang terkuak setelah sekian lama disembunyikan. Luka itu yang membuat mereka mengerti rasa sakit dan saling menguatkan untuk menyembuhkan masing-masing luka.
Review:
Film ini menampilkan konflik keluarga, ditunjang aktor dan aktris yang memiliki kemampuan akting yang bagus sehingga membuat penonton larut dalam cerita. Kalau kalian tipe orang yang gampang terharu, pastikan membawa tisu saat menonton film ini. Karena diadaptasi dari buku yang berisi quotes, beberapa juga ditampilkan dalam film. Seperti yang disampaikan Kale pada Awan ketika awan mengalami banyak masalah “sabar, satu-satu”. Ada juga yang disampaikan dalam bentuk lagu.
Film ini menampilan perspektif masing-masing anggota keluarga mereka beserta tanggung jawabnya. Ayah mereka yang keras karena tanggung jawabnya melindungi keluarga. Ibunya yang selalu menangis seorang diri karena menyembunyikan luka. Masing-masing anak juga memiliki masalah mereka masing-masing sehingga klimaksnya mereka menyadari mereka harus merasakan sakit itu. Luka yang dibiarkan tanpa diobati dapat membuat kita lebih tersakiti. Sebuah konflik keluarga yang rumit, namun sebenarnya bisa relate sama kehidupan sehari-hari.
Salah seorang aktor yang mencuri perhatian dalam film ini adalah Ardhito Pramono. Di film NKCTHI ini dia memerankan karakter yang hampir mirip dengan dirinya. Selain berwajah tampan dia juga bisa bernyanyi, memainkan alat musik dan hati perempuan. Selain berperan, Ardhito Pramono juga menjadi salah satu pengisi soundtrack film ini, sehingga kesuksesan film ini juga berpengaruh terhadap karir Ardhito Pramono. Selain lagu Ardhito Pramono, lagu-lagu dalam film ini juga bagus semua.
Spoiler:
Konflik dalam keluarga pasti pernah dirasakan semua orang, kadang karena dalam lingkup kecil kita meremehkan. Tanpa kita sadari hal yang diremehkan tersebut membesar, seperti halnya yang dilakukan ayah dalam film ini. Awalnya aku kesal pada Ayah dalam film ini karena keras kepala dan terkesan egois. Semua itu berubah ketika ibunya bercerita bagaimana ayah melamar ibu. Ibu bercerita kalau ayah tak memiliki keluarga dan tak memiliki apa-apa, namun ketika dia memiliki keluarga bersama ibu dia akan melakukan segalanya. Alasan ayah menyembunyikan luka di keluarganya adalah karena dia ingin memikul luka itu seorang diri, meski kenyataannya tak bisa demikian. Bagaimanapun dia hanya seorang ayah yang akan melakukan apapun untuk melindungi keluarganya.
Isyana dalam film ini hanya muncul di awal dan di akhir untuk membaca surat dari Awan. Meski hanya sebentar tapi perannya cukup penting untuk menyimpulkan keseluruhan cerita. Hal yang sangat sulit dilewati saat ini akan membuat kita bertumbuh dan suatu hari nanti akan kita ceritakan dengan tersenyum.
Comments
Post a Comment