Sinopsis:
Novel ini bercerita tentang Aini, seorang murid SMA yang nilainya dianggap tak tertolong. Nilai matematikanya hanya seputar bilangan biner (0 dan 1). Kondisi ekonomi keluarganya pas-pasan, ayahnya hanya pedagang mainan di kaki lima dan dia punya banyak adik. Suatu hari tiba-tiba ayahnya sakit, namun tak ada yang bisa mengobati. Bahkan dokter dan tabib sepakat sakit ayahnya harus diobati oleh dokter ahli. Pengobatan itu hanya bisa diperoleh di kota dengan biaya yang tak sedikit. Keadaan tersebut memaksa Dinah, ibu Aini bekerja menggantikan suaminya sementara Aini menjaga ayahnya dan kadang mereka bertukar tugas.
Setelah keadaan ayahnya sedikit membaik, Aini kembali ke sekolah. Lama membolos sekolah membuat nilainya semakin merosot dan tak naik kelas. Atas semua yang dialaminya, Aini bertekat untuk menjadi dokter agar dapat mengobati ayahnya. Aini menyadari hal pertama yang harus dilakukan adalah belajar Matematika. Dia memutuskan pindah kelas agar dapat belajar langsung pada ibu Desi, guru matematika terbaik di sekolah.
Ibu Desi adalah seorang guru yang jenius dan idealis. Dia rela meninggalkan keluarganya yang berkecukupan untuk pergi ke pelosok mengajar matematika. Impiannya adalah menemukan seorang murid yang jenius matematika, sebelum saat itu tercapai dia tak akan mengganti sepatunya. Suatu hari dia bertemu Debut Awaludin, seorang murid jenius seperti yang dicarinya. Semangatnya luntur lantaran Debut membuatnya patah hati, Debut memutuskan untuk bergabung dengan gerombolan sembilan yang termasuk diantaranya Dinah. Pada akhirnya satu persatu gerombolan sembilan meninggalkan sekolah yang disusul Debut.
Semenjak dikecewakan Debut, guru Desi tetap menggunakan sepatu yang sama hingga bertahun-tahun. Dia juga berubah menjadi guru galak yang paling ditakuti di sekolah. Dia sangat terkejut ketika Aini mengatakan akan pindah ke kelasnya, padahal ada siswa lain yang sampai pindah sekolah karena tak mau diajar guru Desi. Pada akhirnya guru Desi mengizinkan Aini pindah ke kelasnya dan bersedia membantu Aini belajar matematika setelah mengetahui alasan dan kegigihan Aini.
Review:
Sama seperti novel-novel Andrea Hirata lainnya dalam novel ini juga disampaikan dengan bahasa yang indah, menarik namun tetap sederhana. Ceritanya juga masih seputar orang-orang kampung pada umumnya namun ada banyak hal yang dapat kita pelajari dari mereka seputar hidup. Seperti biasa Andrea Hirata juga menyelipkan komedi melalui satire dan paradoks.
Novel ini merupakan prekuel dari novel Orang-orang Biasa. Aku sudah baca novel tersebut dan dalam novel tersebut sudah diceritakan sekilas tentang Aini. Awalnya sempat berpikir kenapa judulnya Guru Aini, bukankah Aini bercita-cita jadi dokter? Setelah membaca baru paham bahwa Guru Aini maksudnya adalah gurunya Aini. Guru Aini justru merangkum keseluruhan cerita yakni tentang Aini dan gurunya, bu Desi. Dalam buku ini ada puisi yang ditulis oleh Aini untuk guru Desi, puisi pendek dengan kalimat sederhana namun maknanya sangat dalam dan menyentuh.
Ibu Desi digambarkan sebagai seorang guru jenius yang mengagumkan. Bu Desi juga sangat mencintai matematika, bahkan dia mengatakan bahwa cinta pertamanya adalah matematika. Caranya menyampaikan bagaimana mengagumkannya matematika bahkan membuat aku ingin belajar matematika lagi. Bu Desi juga mempelajari berbagai bidang ilmu yang lain, dengan kejeniusannya dia mampu mengintepretasikan segala macam bidang ilmu ke dalam bahasa matematika. Sejenius penulisnya yang mampu menerjemahkan segala macam bidang ilmu dalam bahasa sastra.
Aini seperti gambaran sebagian murid-murid di Indonesia, sebagian dari kita berpikir tak ada harapan baginya karena kebodohan dan kemiskinan. Perpaduan antara murid dan guru yang tak menyerah akhirnya membuahkan hasil. Aini mampu membuktikan siapapun layak memperjuangkan mimpinya. Guru Desi membuktikan kecerdasan tak hanya dalam satu rupa, hanya dibutuhkan metode yang tepat untuk memunculkan potensi seorang anak.
Teori Eksistensi:
Novel ini menceritakan matematika bak seindah cinta pertama, namun secara keseluruhan novel ini lebih berbicara tentang eksistensi. Bahkan di awal novel kita disambut puisi tentang eksistensi seperti ini.
Dalam desau sepi angin pagi
Dalam gerimis hujan dini hari
Dalam gerak-gerik halus benda-benda
Dalam harapan-harapan yang tak terkata
Tersimpan rahasia
Mengapa kita ini ada
(Andrea Hirata, 2020)
Seperti teori eksistensi René Descartes “Cogito ergo sum” yang artinya “saya berpikir maka aku ada” (Wikipedia), dalam puisi tersebut juga mempertanyakan keberadaan. Jika dihubungkan dengan tokoh Aini, maka Aini mulai mempertanyakan keberadaannya sejak ayahnya sakit. Dia menyadari dialah anak pertama, jadi harus mengambil tangung jawab atas keluarganya. Aini memutuskan apapun yang terjadi dia harus menjadi dokter.
Berawal dari cita-citanya, Aini bertemu guru Desi. Keberadaan Aini membantu menyembuhkan patah hatinya atas Debut Awaludin. Selain itu Aini juga membuat Ibu Desi menyadari Aini adalah yang selama ini dicarinya, seorang yang cerdas dan dapat menginspirasi anak-anak lain belajar matematika. Aini juga memberi harapan bagi ibunya dan mempengaruhi gerombolan 9 yang akhirnya melakukan hal yang dilakukan di novel orang-orang biasa.
Pertanyaannya, apa hubungan matematika dan eksistensi? Jawabannya adalah René Descartes, dia adalah seorang filsuf yang terkenal karena teori eksistensinya. Selain filsuf dia ternyata juga ahli dalam bidang-bidang lain termasuk matematia. René Descartes bersama Pierre Fermat menemukan geometri analitik yang kemudian menjadi dasar pengembangan kalkulus (Kalkulus dan Geometri Analisis).
Comments
Post a Comment