Review Novel Orang-Orang Biasa (Andrea Hirata): Cerita Kota Naif yang Lupa Cara Berbuat Jahat

Sinopsis:

Novel ini menceritakan orang-orang biasa ditempat yang di sebut Belantik. Diceritakan penduduknya yang tidak kasar,menyukai humor, taat hukum dan respek pada otoritas. Tingkat kejahatan di sana sangat rendah. Diantara orang-orang tersebut ada siswa-siswi di sebuah SMA yang dinamai gerombolan 9. Mereka adalah Handai, Tohirin, Sobri, Honorun, Rusip, Salud,Dinah, Nihe, Junilah. Gerombolan ini adalah penghuni bangku paling belakang, mereka bersahabat atas dasar kesamaan tak pandai dalam akademis. Beberapa diantara mereka juga merupakan sasaran empuk bullying.
Debut Awaludin adalah seorang yang jenius terutama dalam bidang matematika, guru Desi bahkan memberi pelajaran khusus untuk Debut. Sangat kontras dengan gerombolan 9, namun Debut memutuskan untuk bergabung dengan gerombolan 9 dan tak mau lagi tambahan pelajaran dari guru Desi. Satu-persatu gerombolan 9 meninggalkan sekolah baik atas kemauan sendiri atau diminta baik-baik oleh sekolah. Debut mengikuti jejak mereka karena merasa kehilangan makna hidup semenjak ditinggal kawannya. Menyisakan Honorun dan Handai yang akhirnya bisa lulus SMA.
Bertahun kemudian Dinah telah menikah dan mempunyai 4 anak. Suaminya sakit dan hanya bisa diobati oleh dokter ahli. Anaknya yang memiliki kemampuan akademis yang sama dengan dirinya tiba-tiba bercita-cita menjadi dokter. Bersama tekatnya yang kuat, dia belajar matematika dengan guru terbaik di sekolah Bu Desi. Tak disangka dia lulus dengan nilai matematika sempurna disertai peningkatan nilai pada semua mata pelajaran.
Dinah kaget mendapati anaknya diterima di fakultas kedokteran, biaya yang dibutuhkan tidak sedikit. Dia mencari pinjaman ke bank namun tak dapat. Akhirnya dia memutuskan menemui kawannya yang paling jenius. Dinah menemui Debut Awaludin di toko buku bekasnya yang diberi nama ‘Heroik’.  Debut mencetuskan ide gila merampok bank dengan dalih ‘meminjam’. Debut dan dinah mengunpulkan kembali gerombolan 9 dan memulai rencana.

Review:

Andrea Hirata sangat jenius dalam menemukan perspektif. Seperti judulnya novel ini bercerita tentang orang-orang biasa, namun Andrea Hirata menemukan perspektif baru yang membuat ceritanya menarik. Justru karena yang diceritakan adalah orang-orang biasa, jadi terasa lebih dekat dan relate dengan kebanyakan masyarakat Indonesia. Masih seperti novel-novelnya yang lain, Andrea Hirata masih bercerita tentang orang melayu. Untuk saat ini masih belum ada penulis yang menceritakan orang melayu lebih baik dari Andrea Hirata.
Seperti biasanya Andrea Hirata juga memainkan paradox. Disini paradoxnya adalah ada sembilan orang bodoh dan satu orang jenius untuk seimbang. Ada pula paradox tanggung jawab, seorang polisi yang tak pernah mendapat kasus bahkan mengharapkan adanya kejahatan. Di Belantik yang naif dan hampir tak ada kejahatan pun ternyata tersembunyi kejahatan terorganisir besar yang disamarkan.
Andrea Hirata juga masih mencintai dunia pendidikan, dia menyentil kita tentang kasus bullying. Kasus yang sebenarnya tak bisa dianggap remeh, korban bullying akan merasakan dampaknya seumur hidup. Sedangkan untuk pelakunya jika tak dibuat jera akan melakukan tindakan kriminal yang lebih lagi. Sekilas disinggung juga bagaimana nasib guru-guru dan murid-murid di pedalaman. Juga tentang bagaimana belajar kedokteran tak bisa untuk orang-orang miskin karena terlalu mahal dan tak ada beasiswa. Melalui Aini, Andrea Hirata memberi harapan bagaimana keadaanmu semiskin dan sebodoh apapun kalian memiliki hak bermimpi yang sama.

Teori Kriminologi:

Berikut terdapat beberapa pandangan tentang teori sosiologi yang mempengaruhi seseorang melakukan tindakan kriminal yang dikutip dari dosensosiologi.com.
• Teori Biologi
Faktor fisiologi, ciri fisik yang dibawa sejak lahir.
• Teori Psikogenesis
Tindakan kriminal dapat dipengaruhi tingkat Intelegensi seseorang, kepribadian, motivasi, serta adanya perilaku menyimpang dan kesalahan pola asuh sejak lahir.
• Teori Sosiogenesis
Lingkungan sosial yang buruk dapat mempengaruhi seseorang berbuat kriminal.
• Teori Subkultural Delikuensi
Hal ini dipengaruhi oleh pola budaya, lingkungan, status sosial serta tingkat ekonomi yang rendah.

Berdasarkan empat teori tersebut gerombolan sembilan, Debut Awaludin dan orang-orang Belantik memang tak memiliki motivasi untuk melakukan tindakan kriminal. Berdasarkan teori biologi, mereka turun temurum mereka adalah orang yang sederhana dan berjalan mengikuti aturan yang ada. Sedangkan berdasatkan teori psikogenesis, rata-rata tingkat intelejensi mereka biasa saja namun mereka memiliki kepribadian yang sangat baik. Mereka peduli terhadap orang lain dan senang menyelesaikan masalah dengan kekeluargaan. Teori sosiogenesis adalah yang terpenting, di Belantik lingkungannya sangat kondusif. Mereka tak suka macam-macam, hanya segelintir orang yang sudah biasa keluar masuk penjara dan inisial namanya dipajang di koran. 

Teori subcultural Delikuensi mungkin satu-satunya yang mendekati. Status sosial serta tingkat ekonomi yang rendah memaksa mereka untuk melakukan tindakan kriminal, dengan kata lain tak ada pilihan lain. Mereka akhirnya setuju untuk merampok setelah ada pembenaran bahwa ini ‘meminjam’ dan akan dikembalikan. Setelah perampokanpun mereka terus merasa bersalah dan pada akhirnya sepakat tak akan menggunakan uang itu. Sesulit apapun mereka bertekat mencari uang bersama dengan cara yang halal.

Comments