Sinopsis:
Film yang disutradarai oleh Mike Wiluan ini dibuka dengan setting California pada tahun 1860. Arana (Tio Pakusadewo) bersama dua orang keponakannya Jamar (Ario bayu) dan Suwo (Yoshi Sudarso) sedang dalam sebuah kereta. Jamar sedang berkelahi untuk mendapatkan taruhan. Mereka bertiga sedang dalam perjalanan pulang ke tanah air.
Arana terpaksa melarikan diri karena seluruh keluarganya termasuk kakaknya Sultan Hamzah yang merupakan ayah dari Jamar dan Suwo telah dibantai oleh Van Trach. Sultan Hamzah meminta Arana menyelamatkan kedua anaknya karena mereka adalah harapan terakhir untuk membebaskan rakyat dari penjajah. Dengan berat hati, Arana pergi ke California membawa kedua keponakannya.
Bertahun kemudian saat Jamar dan Suwo telah dewasa, mereka bertiga kembali ke tanah air. Mereka kembali dengan misi membalas dendam kepada Van Trach. Dalam perjalanan mereka membantu Sri (Mika Tambayong) dan kakeknya yang sedang di rampok. Kemudian mereka bertiga diajak ke kampung Sri.
Disana mereka disambut Kiona (Pevita Pearce) yang sedang menunggang kerbau. Kiona adalah kakak Sri, mereka berdua adalah anak kepala desa. Kehadiran mereka bertiga di desa tersebut ternyata membawa masalah. Orang-orang Van Trach datang dan menyiksa penduduk karena tak bisa menemukan mereka bertiga. Arana, Jamar dan Suwo mereka kemudian menyerang rumah Van Trach. Di sana Arana bertemu dengan istrinya, Seruni (Happy Salma). Arana membawa Seruni kabur dari rumah Van Trach.
Jamar dan Suwo terlibat perang dengan Van trach, mereka datang dengan menunggangi Kerbau sehingga mereka disebut Buffalo Boys. Keunikan film ini mereka berpenampilan dan bersenjata ala koboi. Setting tempat juga diatur ala Country lengkap dengan barnya yang sangat keren. Adegan perang penuh darah ditampilkan di sini. Akankah mereka berhasil mengalahkan Van Trach?
Review:
Secara visual mata kita akan dimanjakan saat menonton film ini. Selain para pemainnya yang sudah goodlooking dari sananya, makeup, wardrobe, setting tempat, hingga editingnya sangat memukau. Meski kalau diperhatikan masih ada yang sedikit luput editannya, namun secara keseluruhan sudah Oke. Setahuku saat ini belum ada film Indonesia yang melakukan penggabungan fantasi dan latar belakang sejarah seperti ini. Bisa dibilang ini adalah film koboi dengan kearifan lokal.
Di film ini para penjajah menggunakan bahasa Inggris. Mungkin agar lebih mudah dipahami penonton jadi dipilih bahasa yang lebih universal. Jamar dan Suwo yang memang besar di Amerika jadi bahasa Inggris mereka sangat bagus.
Para pecinta film action pasti akan terpuaskan dengan adegan laga yang ditampilkan dalam film ini. Ario bayu keren dan mencuri perhatian seperti biasanya, begitu juga dengan Yoshi Sudarso. Bahkan meskipun di sini penampilan fisik mereka berantakan sekalipun masih tetap keren. Di sini juga ada adegan mereka berdua mandi di sungai, pemandangan sungai dan hutan yang mengelilinginya sangat keren sih.
Bukan hanya cocok-cowok yang melakukan adegan action di sini, cewek-cewek juga tak mau kalah. Kesan glamor dan manja Pevita Pearce di sini sama sekali tidak ada, dia menjelma menjadi gadis kampung sederhana namun sangat kuat. Di sini bahkan ada adegan Pevita yang sangat brutal. Bukan Hanya Pevita, Hana Al Rasyid di sini juga sangat berbeda dekali dengan semua peran yang dia mainkan. Dia berhasil memerankan Adrie yang selainjago bertarung dia juga sedikit gila. Bahkan kalau dilihat sekilas kita tidak akan sadar kalau itu Hana.
Berhubung latar film ini adalah jaman penjajahan, jadi sudah pasti ada kekejaman yang ditampilkan para penjajah terhadap pribumi. Mulai dari penjajah yang meludah saat bertemu, harta mereka dirampas, mereka diberi stempel kependudukan dengan besi panas hingga di bunuh dengan kejam. Diskriminasi sudah pasti ada juga, contohnya di bar ada tulisan “White only”. Namun yang lebih ditekankan di sini adalah semangat yang diwakili oleh Jamar dan Suwo untuk melawan kolonial. Jadi meskipun kita akan dibuat terharu dan kasian kita juga diberi semangat dan harapan.
Kurang afdol rasanya kalau film tanpa sentuhan kisah cinta. Di sini ditampilkan kisah antara Suwo dan Kiona, namun tidak terlalu banyak. Justru kisah cinta yang sngat keren ditampilkan dua artis senior Tio Pakusadewo dan Happy Salma. Kisah mereka menurutku menggambarkan cinta yang sederhana namun sangat dalam, bahkan tatapan mereka berbicara lebih banyak. Kedua orang ini keren banget sih, jadi bisa imbang antara misi balas dendam dengan kesetiaan, peperangan dan pengorbanan, air mata derita terbaur air mata kebahagiaan dalam kisah cinta yang tragis juga manis.
Spoiler:
Diakhir film Jamar ditembak Van Trach beberapa kali di bagian punggung, namun dia masih hidup. Ternyata keris peninggalan ayahnya yang menyelamatkannya, peluru itu menancap pada keris. Seperti pesan Arana, keris itu akan menyelamatkannya. Pertanyaannya kenapa keris ini tidak digunakan untuk perang? Keris ini dibuat lancip di bagian depan, hanya bisa digunakan untuk menusuk dari harak dekat, jadi kurang cocok untuk perang. Fungsi keris dalam kepercayaan Jawa adalah pusaka, sehingga sangat dihormati. Keris selain sebagai perlengkapan dalam upacara adat, pelengkap busana, pemberi kewibawaan, juga simbol status sosial. Setiap pemimpin, raja dan sultan di Jawa pasti memiliki keris khusus sebagai simbol kekuasaannya.
Dalam film ini keris yang diwariskan kepada Jamar maknanya sangat dalam. Mengingatkan Jamar bahwa dia adalah seorang pangeran yang memegang estafet tanggung jawab seorang pemimpin untuk melindungi rakyat. Keris ini juga memberinya kewibawaan seorang pemimpin, pertanda dia bukan orang biasa, dia tidak akan terkalahkan dengan mudah.
Comments
Post a Comment